Namun demikian, hal umum yang harus diingat adalah pada dasarnya, wawancara bisa berjalan baik melalui kecerdikan mengajukan pertanyaan dan kepekaan mendengarkan atau mencerna jawaban. Dari sini, bobot atau muatan suatu wawancara akan bergantung pada sejauh mana kecerdikan pewawancara mengajukan pertanyaan.
Kecerdikan pewawancara bergantung pada dua tahap yang harus ditempuhnya: tahap persiapan dan pelaksanaan wawancara.
Tahap persiapan wawancara
Pada tahap ini, pertama-tama pewawancara menentukan topic pembicaraan atau masalah apa yang akan ditanyakan---termasuk alas an atau latar belakang pemilihan topic tersebut. Hal ini harus diperhatikan betul agar pewawancara tidak bingung apa yang akan ditanyakannya.
Patut diperhatikan, wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong. Dengan demikian pewawancara harus memahami dulu topic pembicaraan dan memahami permasalahan yang ada diseputar topic tersebut. Dan akan lebih baik, jika pewawancara sudah mempunyai pendapat atau penilaian sendiri atas masalah yang ditanyakan. Sehingga, wawancara tidak berlangsung secara monolog (satu arah), akan tetapi dalam bentuk dialog (debat). Tentu saja dialog atau debat di sini lebih diarahkan pada penggalian informasi/pendapat interviewee.
Langkah kedua, pewawancara harus merumuskan pertanyaan, yakni “pertanyaan peluru” (loaded question), terlebih bila hasil wawancara tersebut akan disajikan dalam bentuk “wawancara ekseklusif”. Disinilah dapat diketahui sejauh mana kejelian pewawancara dalam mengajukan pertanyaan yang pada akhirnya menentukan bobot muatan wawancara tersebut.
Tentu saja, rumusan pertanyaan yang telah disusun tidak bersifat kaku, melainkan fleksibel. Artinya, pertanyaan yang diajukan bisa berkembang, tidak terpaku pada rumusan yang telah disusun. Pengembangannya bisa bersumber pada jawaban yang diberikan interviewee.
Langkah ketiga adalah menjalin hubungan dengan pihak yang hendak diwawancarai (interviewee). Kiat menghubungi interviewee ini bisa ditempuh melalui telepon sekaligus mengatakan apa yang hendak diperbincangkan.
Jika tidak memungkinkan dengan cara itu, karena interviewee orang sibuk misalnya, pewawancara bisa mengejar ketempat-tempat di mana ia berada, misalnya di acara-acara tertentu. Di sela-sela acara itulah pewawancara bisa mengejar interviewee dan mengajukan pertanyaan (wawancara sambil lalu). Namun. Konsekuensinya waktu sangat terbatas. Wawancara berlangsung terbatas sekali.
0 komentar:
Posting Komentar