Kamis, 23 Oktober 2008

Penyebarluasan Informasi

Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.

Penyusunan Informasi (Berita)

Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor.

Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut UU No. 40/1999, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:

1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.

2. Menguasai bidang liputan (beat).

3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:

1. News Planning = perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan.

2. News Hunting = pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

3. News Writing = penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.

4. News Editing = penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.

Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).

Informasi : News & Views

Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).

Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.

Views adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai.

Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest.

Selasa, 21 Oktober 2008

Ibu, Adik, Aq and Mbah Putri

Rumah Tante Q yang lom Jadi dulu

Rizal, Aq waktu berangkat sekolah masih kelas 3 MI "Miftahul Ulum" Kraton

Aq ama Rouf yang suka perang-perangan

Siap......, grak, eh tapi kk gak siap ya.....? ngantuk kale.....???

Ibu lagi gendong adik, Aq ama Mbak Anis waktu mantenan tenanx (alm) Ayah

Rouf, Aq, Adik dan Om Joko lagi Action di depan rumah

Nich Aq di foto malah nangis, kenapa ya?????


Koboi dari Kraton

Action dulu ya, hadapin lomba Bocah Cakep tingkat Propinsi.

Ngaji dulu, ojo suka maenan aja.

Pelaksanaan Wawancara

Pada tahap ini, terdapat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan.

1. Datang tepat pada waktu yang telah disepaakti.

2. Memperhatikan penampilan.

3. Datang dengan persiapan dan pengetahuan masalah.

4. Sebaiknya mengemukakan alasan kedatangan (maksud dan tujuan) sebagai pengantar ataupun basa-basi untuk menjaga suasana psikologis interviewee.

5. Pertanyaan hendaknya dimulai dengan hal-hal umum (secara garis besar), dan setiap pertanyaan mengarahkan narasumber pada inti persoalan.

6. Pertanyaan tidakbersifat interogatif atau terkesan memojokkan interviewee sebagai “terdakwa”, dan hindari sebisa mungkin perkataan yang cenderung “menggurui”.

7. Dengarkan jawaban dengan baik, dan boleh menyela jika interviewee menyimpang dari topic wawancara. Dan sebaiknya, selaan dilakukan ketika interviewee dalam keadaan rileks.

8. Siapkan catatan. Jangan ragu untuk menuliskan dan mengajukan pertanyaan baru yang muncul saat mendengarkan pembicaraan interviewee. Sebab, dalam proses wawancara kadang muncul masalah baru yang bisa dikembangkan. Dengan kata lain, pewawancara harus siap mengembangkan masalah asalkan masih berkaitan dengan tema yang dibicarakan.

Selain itu, pelaksanaan wawancara akan lebih baik jika pewawancara mengenal baik biografi interviewee, jabatannya, wataknya, hobinya, dan lain-lain menyangkut diri narasumber. Adapun hal-hal yang harus dihindari selama wawancara, antara lain jangan menjilat, sok akrab, dan menjual nama orang.

Satu hal lain yang tak kalah pentingnya yaitu harus menghormati sesuatu yang dinyatakan off the record atau for your eyes only. Kode Etik Jurnalistik pun menggariskan (pasal 5 ayat 2), keterangan-keterangan yang diberikan secara off the record tidak (boleh) disiarkan, kecuali apabila wartawan yang bersangkutan secara nyata-nyata dapat membuktikan bahwa ia sebelumnya memiliki keterangan-keterangan yang kemudian ternyata diberikan secara off the record itu.

Selesai melakukan wawancara, sebaiknya langsung menuliskan (transkrip) hasilnya. Jika penulisan ditunda-tunda, maka dapat mengganggu kesegaran atau daya ingat pewawancara, yang berakibat pada kekurangan atau kekeliruan penulisan hasil wawancara tersebut. Jika ada pernyataan/kata-kata yang meragukan, bisa ditanyakan kembali atau dikonfirmasi kepada interviewee. Jika tidak memungkinkan, bisa menanyakannya kepada sumber lain.

Kiat - Kiat Wawancara

Para praktisi jurnalisme umumnya sependapat, tidak ada kiat mutlak mewawancarai seseorang. Setiap wartawan pada dasarnya memiliki kiat-kiat tersendiri dalam menemui dan memancing seseorang (interviewee) untuk berbicara atau berkomentar tentang suatu hal.

Namun demikian, hal umum yang harus diingat adalah pada dasarnya, wawancara bisa berjalan baik melalui kecerdikan mengajukan pertanyaan dan kepekaan mendengarkan atau mencerna jawaban. Dari sini, bobot atau muatan suatu wawancara akan bergantung pada sejauh mana kecerdikan pewawancara mengajukan pertanyaan.

Kecerdikan pewawancara bergantung pada dua tahap yang harus ditempuhnya: tahap persiapan dan pelaksanaan wawancara.

Tahap persiapan wawancara

Pada tahap ini, pertama-tama pewawancara menentukan topic pembicaraan atau masalah apa yang akan ditanyakan---termasuk alas an atau latar belakang pemilihan topic tersebut. Hal ini harus diperhatikan betul agar pewawancara tidak bingung apa yang akan ditanyakannya.

Patut diperhatikan, wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong. Dengan demikian pewawancara harus memahami dulu topic pembicaraan dan memahami permasalahan yang ada diseputar topic tersebut. Dan akan lebih baik, jika pewawancara sudah mempunyai pendapat atau penilaian sendiri atas masalah yang ditanyakan. Sehingga, wawancara tidak berlangsung secara monolog (satu arah), akan tetapi dalam bentuk dialog (debat). Tentu saja dialog atau debat di sini lebih diarahkan pada penggalian informasi/pendapat interviewee.

Langkah kedua, pewawancara harus merumuskan pertanyaan, yakni “pertanyaan peluru” (loaded question), terlebih bila hasil wawancara tersebut akan disajikan dalam bentuk “wawancara ekseklusif”. Disinilah dapat diketahui sejauh mana kejelian pewawancara dalam mengajukan pertanyaan yang pada akhirnya menentukan bobot muatan wawancara tersebut.

Tentu saja, rumusan pertanyaan yang telah disusun tidak bersifat kaku, melainkan fleksibel. Artinya, pertanyaan yang diajukan bisa berkembang, tidak terpaku pada rumusan yang telah disusun. Pengembangannya bisa bersumber pada jawaban yang diberikan interviewee.

Langkah ketiga adalah menjalin hubungan dengan pihak yang hendak diwawancarai (interviewee). Kiat menghubungi interviewee ini bisa ditempuh melalui telepon sekaligus mengatakan apa yang hendak diperbincangkan.

Jika tidak memungkinkan dengan cara itu, karena interviewee orang sibuk misalnya, pewawancara bisa mengejar ketempat-tempat di mana ia berada, misalnya di acara-acara tertentu. Di sela-sela acara itulah pewawancara bisa mengejar interviewee dan mengajukan pertanyaan (wawancara sambil lalu). Namun. Konsekuensinya waktu sangat terbatas. Wawancara berlangsung terbatas sekali.

Pengertian Wawancara

Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan beita, data atau fakta. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara langsung bertatap muka (face to face) dengan orang yang diwawancarai (interviewee), atau secara tidak langsung seperti melalui telepon, internet, atau surat (wawancara tertulis)

Dewasa ini wawancara bahkan tidak hanya dipandang sebagai salah satu metode jurnalistik untuk mengumpulkan informasi, tetapi juga sudah merupakan bagian dari penyajian informasi itu sendiri yang kerap disebut sebagai “wawancara eksklusif”. Hasil wawancara disajikan dalam bentuk Tanya-jawab, seolah hendak membawa pembaca turut bertanya pada narasumber atau orang yang diwawancarai tentang satu atau berbagai masalah, atau memberitahu pembaca bagaimana pewawancara menggali informasi dari narasumber tadi.

Didunia jurnalistik dikenal beberapa macam wawancara, antara lain:

o Wawancara berita (news-peg interview), yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewee tentang suatu masalah atau peristiwa.

o Wawancara pribadi (personal interviewee), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri pribadi dan pemikiran interviewee. Berita yang dihasilkannya berupa profil interviewee, meliputi indentitas diri, perjalanan hidupnya, dan pandangan-pandangannya mengenai berbagai masalah---biasanya berkaitan dengan masalah aktual atau masalah yang terkait dengan profesinya.

o Wawancara eksklusif (exclusive interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus dengan interviewee, berkaitan dengan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama oleh pewawancara dan interviewee.

o Wawancara sambil lalu (casual interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan tidak secara khusus, berlangsung secara kebetulan, tidak ada perjanjian/kesepakatan terlebih dahulu dengan interviewee. Misalnya mewawancarai seorang pejabat sebelum, saat, atau setelah berlangsungnya sebuah acara yang ia hadiri, bahkan ketika pejabat tadi berjalan menuju mobilnya untuk pulang.

Wawancara keliling (man-in-the street interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan dengan menghubungi berbagai interviewee secara terpisah, yang satu sama lain mempunyai kaitan dengan masalah atau berita yang akan ditulis. Misalnya, ada peristiwa kebakaran. Wartawan melakukan wawancara dengan saksi mata, korban, dan lain tentang peristiwa tersebut.

Sabtu, 18 Oktober 2008

Pengertian Jurnalistik

Kegiatan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarluaskan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah, radio dan televisi, kepada massa sebanyak-banyaknya dalam waktu secepat-cepatnya.

Sehingga diharapkan semua berita atau informasi yang ada bisa di terima oleh banyak massa sesuai dengan waktu yang di harapkan. Jika semua informasi atu berita tersampaikan dengan baik tidak akan ada sebuah berita yang Kedaluarsa atau BASI.

Lead (Teras Berita)

Teras berita, disebut pula lead, adalah bagian berita yang terletak di alinea atau paragraf pertama. Teras berita merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body).

Teras berita umumnya disusun dalam bentuk :

· Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan). Contoh: Kepala Negara, Ahad (1/7), mengisi hari liburnya dengan kgiatan santai di Kebun Raya dan Taman Safari Bogor.

· Statement lead (teras berita berupa pernyataan). Contoh Kapolri menegaskan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus Udin hingga pembunuhnya tertangkap (tapi sayang entah kapan?—red).

· Quotation lead ( teras berita kutipan). Contoh: “Penyebar isu menyesatkan harus diusut dan dihukum,” demikian dikatakan Kepala Negara, kemarin, menanggapi munculnya isu-isu yang meresahkan masyarakat belakangan ini.

· Contrast lead (teras berita kontras). Contoh: Bogor, yang berjuluk kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga merasakan kesulitan mendapatkan air bersih.

· Exclamation lead (teras berita yang menjerit). Contoh: “Tidak…………!” demikian teriak histeris terdakwa AP, mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati.

Mengenai penulisan teras berita ini, ada sepuluh pedoman yang dikeluarkan PWI Pusat, sebagai berikut:

1. Teras berita yang menempati alinia pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita. Alinia pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih, akan tetapi sebaiknya jangan sampai melbihi tiga kalimat.

2. Teras berita jangan mengandung lebih dari 30 – 45 kata.

3. Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan sebaik-baiknya, sehingga:

§ Mudah ditangkap dan cepat dipahami.

§ Kalimatnya singkat, sederhana, susunan bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan menjauhkan kata mubazir.

§ Satu gagasan dalam satu kalimat.

§ Dibolehkan memuat lebih dari satu unsur 5W+1H.

4. Hal yang tidak mendesak, berfungsi sebagai pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.

5. Teras berita lebih baik mengutamakan unsur “apa” (what).

6. Teras berita juga dapat dimulai dengan unsur “siapa” (who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol, sebaiknya dimut pada badan berita.

7. Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/bilamana” (when), kecuali bila unsur itu punya makna makna khusus dalam berita itu.

8. Bila harus memilih dari dua unsur, yakni unsur tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah unsur tempat dulu, baru waktu.

9. Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan dalam badan berita, tidak dalam teras berita.

10. Teras berita dapat dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead), asalkan kutipan itu tidak berupan kalimat panjang. Pada alinia berikutnya, tulis nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat pernyataan itu.

Berikut contoh-contoh teras berita berdasarkan penonjolanm salah satu unsur dari rumusan 5W+1H.

- Teras berita apa (what).

Gedung Islamic Centre bandung (what) telah diresmikan penggunaannya kemarin oleh Gubernur Jawa Barat HR Nuriana.

- Teras berita siapa (who).

Gubernur Jawa Barat HR Nuriana (who) meresmikan penggunaan Gedung Islamic Centre Bandung kemarin.

- Teras berita di mana (where).

Di Gedung Islamic Centre Jl. Diponegoro bandung (where) tengah berlangsung pameran busana Muslimah dan bazar buku-buku Islam.

- Teras berita kapan (when).

Mulai besok (when) para nasabah 16 bank yang terlikuiditasi dapat mencairkan uang simpanannya di bank-bank yang telah ditunjuk.

- Teras berita mengapa (why).

Untuk memulihkan kondisi fisik yang kelelahan (why), Kepala Negara akan beristirahat selama 10 hari atas anjuran tim dokter.

- Teras berita bagaimana (how).

Melalui pendidikan dan pelatihan wartawan (how), PWI terus berupaya meningkatkan profesionalisme anggotanya.

Adapun penulisan atau penentuan judul berita merupakan tugas, hak, atau wewenang redaktur/editor. Namun demikian, bukan berarti pembuat berita (reporter) dilarang membuat judul berita. Dengan mencari hal paling menarik dari isi berita, sekaligus menjadi masukan dan membantu kerja redaktur, penulis berita dapat, bahkan harus me

Jenis-jenis dan Struktur Berita

Jenis-jenis berita yang dikenal dalam dunia jurnalistik antara lain:

¨ Straight news, berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depat surat kabar berisi berita jenis ini.

¨ Depth news, berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada dibawah suatu permukaan.

¨ Investigation news, berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.

¨ Interpretative news, berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penilaian penulisnya/reporter.

¨ Opinion news, berita mengenai pendapat sseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, tokoh, ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal peristiwa, kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.

Adapun susunan atau struktur berita, khususnya berita langsug (straigh news), pada umumnya mengacu pada struktur piramida terbalik (inverted pyramid), yaitu memulai penulisan berita dengan mengemukakan bagian berita yang dianggap paling penting, kemudian diikuti bagian-bagian yang dianggap agak penting, kurang penting, dan seterusnya.

Bagian paling penting ini dituangkan dalam lead---bagian kepala/awal yang biasanya terletak pada alinea pertama. “Sudah menjadi hukum jurnalistik,” kata Al Hester,”bagi sebagian besar berita yang akan ditulis dengan menampilkan lebih dulu fakta-fakta yang paling penting.”

Susunan berita bentuk piramida terbalik ini menguntungkan pembaca dalam efisiensi waktu karena langsung mengetahui berita paling penting. Karenanya, bentuk ini bisa lebih menarik perhatian pembaca. Selain itu, bentuk ini pun memudahkan kerja redaktur/editor/penyunting untuk melakukan pemotongan naskah (cutting) jika kolom/ruang yang tersedia terbatas atau tidak cukup untuk memuat seluruh bagian berita.

Menulis Berita

Dalam menulis berita, seorang reporter/wartawan mengacu kepada “karakteristik utama” berita layak muat yang telah dibicarakan dimuka, untuk kemudian dipadukan dengan “rumus umum” penulisan sebuah berita (reportase atau laporan), agar tercipta sebuah berita yang lengkap dan tidak membuat pembaca bertanya-tanya.

Rumus umum dimaksud dikenal dengan 5W+1H, kependekan dari :

§ What : apa yang terjadi.

§ Where : dimana hal itu terjadi.

§ When : kapan peristiwa itu terjadi.

§ Who : siapa yang terlibat dalam kejadian itu.

§ Why : kenapa hal itu terjadi, dan

§ How : bagaimana peristiwa itu terjadi.

Rumusan 5W+1H untuk Indonesia adalah 3A-3M, kependekan dari Apa, meng-Apa, bila-Mana, di Mana, dan bagai-Mana.

The art of writing (seni melukis) merupakan hal penting untuk menjadikan berita lebih menarik dan (enak) dibaca/didengar orang. Kita dapat memilah dan memilih mana yang akan dikedepankan dalam berita itu. Apakah “apa-nya, “siapa-nya, atau lainnya.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam penulisan berita, sebagaimana yang tertera dalam Kode Etik Jurnalistik, antara lain:

q Berita diperoleh dengan cara jujur.

q Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkan (check and recheck).

q Sebisanya membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat (opinion).

q Menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak mau disebut namanya. Dalam hal ini, seorang wartawan tidak boleh memberi tahu dimana ia mendapat beritanya jika orang yang memberikannya meminatnya untuk merahasiakannya.

q Tidak memberitakan keterangan yang diberikan secara off the rcord (for your eyes only).

q Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan dri suatu surat kabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.

Syarat Mencari Berita

Sebelum wartawan menyusun dan menyiarkan berita lewat medianya, tentu saja ia terlebih dahulu harus mencari berita itu. Kegiatan ini pada prinsipnya bisa dikerjakan setiap waktu, bergantung pada mood, peristiwa yang terjadi, atau ada-tidaknya penugasan dari redaksi.

Mencari berita bisa dilakukan degan beragam cara, seperti wawancara, mendatangi secara teratur instansi pemerintah atau swasta, atau tempat-tempat lain yang dimungkinkan munculnya hal-hal yang dapat menjadi berita (beat system). Dengan kata lain, cara pencarian berita dengan sistem ini dilakukan dengan “ngepos” atau mangkal ditempat-tempat tertentu yang biasanya dari tempat itu banyak hal (informasi) yang muncul dan layak diketahui orang lain.

Bisa pula dengan mengembangkan berita yang sudah muncul (follow up system), yakni dengan cara melengkapi, mempertajam, atau menekankan hal-hal khusus dari berita tersebut.

Mengenai tehnik mencari berita, berikut dikutikan secara singkat beberapa poin penting cara mencari berita, sebagaimana dimuat dalam Pedoman untuk Wartawan (1992), yang disusun berdasarkan petunjuk dari reporter-reporter yang berpengalaman.

1. Memiliki rasa ingin tahu. Jika tidak memiliki hal ini, anda tidak akan menjadi reporter yang baik. Munculan terus pertanyaan mengapa.

2. Tinggalkan kantor. Berita tidak muncul dibalik mesin pendingin ruang dikantor.

3. Bicaralah dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Perhatikan apa yang anda dengar dari orang-orang disekitar anda.

4. Baca koran anda sendiri. Banyak reporter tidak suka membaca tulisan orang lain, termasuk teman sendiri. Ikuti perkembangan koran anda.

5. Jangan segan-segan meniru ide-ide dari surat kabar lain, tapi jangan pula menjadi reporter yang selalu meniru, karena anda akan kehilangan kreativitas sendiri.

6. Baca pernyataan-pernyataan resmi, meskipun terasa membosankan. Pernyataan itu munkgin mengandung bibit berita.

7. Perhatikan televisi dan dengarkan radio. Media-media itu sekali-sekali menampilkan berita baik yang bisa anda angkat dan kembangkan.

8. Sediakan suatu map peristiwa mendatang (maksudnya, catatan tentang jadwal atau agenda acara yang bisa menjadi berita, seperti seminar, peresmian, turnamen, perayaan hari-hari besar, dan sebagainya).

9. Kunjungilah pasar dan pameran.

10. Mengobrollah dengan sesama reporter.

11. Gunakan waktu untuk berkeliling kota anda, berbaurlah dengan masyarakat jangan asingkan diri anda.

12. Sekali-sekali pergilah menyendiri dan berpikir untuk memunculkan ide pencarian/pembuatan berita.

Pengertian Berita

Berita (news) merupakan sajian utama sebagian besar media massa disamping views (opini, pendapat). Mencari dan menyusun berita lalu menyiarkannya lewat media, merupakan tugas pokok jurnalis/reporter/wartawan.

Micthel V. Charnley mengemukakan pengertian berita yang lebih lengkap dan untuk keperluan praktis layak dijadikan acuan bagi jurnalis. Ia mengatakan, “Berita adalah laporan tercepat dan suatu peristiwa atau kejadian yang faktual, penting dan menarik bagi sebagian besar pembaca, serta menyangkut kepentingan mereka”.

Dari pengertian tersebut, terdapat empat unsur yang harus dipenuhi oleh sebuah berita, sekaligus menjadi “karakteristik utama” sebuah berita yang layak dipublikasikan (layak muat) dimedia massa yaitu :

1. Cepat, yakni aktual atau ketepatan waktu. Dalam unsur ini terkandung makna harfiah berita (news), yakni sesuatu yang baru (new). “Tulisan jurnalistik,” kata Al Hester,” adalah tulisan yang memberi pemahaman pada pembaca atau informasi yang tidak diketahui sebelumnya.

2. Nyata (faktual), yakni informasi tentang sebuah fakta (fact), bukan fiksi atau karangan. Fakta dalam dunia jurnalistik terdiri dari kejadian nyata (real event), pendapat (opinion), dan pernyataan (statement) sumber berita. Dalam unsur ini terkandung pula pengertian, sebuah berita harus merupakan informasi tentang sesuatu yang sesuai dengan keadaan sebenarnya atau laporan mengenai fakta sebagaimana adanya. “Seorang wartawan harus menulis apa yang benar saja,” ujar M. L. Stein (1993:26), seraya mengingatkan, “Jangan sekali-kali mengubah fakta untuk memuaskan hati seseorang atau suatu golongan. Jika sumber anda dapat dipercaya, itulah orang paling penting.”

3. Penting, artinya menyangkut kepentingan orang banyak. Misalnya peristiwa yang akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat secara luas, atau dinilai perlu diketahui dan diinformasikan kepada orang banyak, seperti kebijakan baru pemerintah, kenaikan haga, dan lain sebagainya.

4. Menarik, artinya mengundang orang untuk membaca berita yang kita tulis. Berita yang biasanya menarik perhatian pembaca, disampng yang aktual dan faktual serta menyangkut kepentingan orang banyak, juga berita yang bersifat menghibur (lucu), mengandung keganjilan atau keanehan, atau berita human interest (menyentuh emosi, menggugah perasaan).

Keempat hal itulah antara lain hal-hal penting layak menjadi acuan bagu jurnalis dalam mencari dan menulis berita untuk medianya. Dengan demikian, seorang jurnalis hendaknya mampu membedakan mana fakta/peristiwa yang mempunyai nilai berita dengan yang tidak bernilai berita.

Emang Dasar - Wali Band

Int : D Bm G A

D
Aku Tahu Kamu
Bm
Kamu Seorang Bajingan
G
Aku Tahu Kamu
A
Kau Banyak Jurus Andalan
D
Matamu Stereo
Bm
Lihat Kekiri Kekanan
G
Apalagi Menawan
A
Pasti Bakal Kebobolan

Bridge:
F#m
Tapi Ada Satu Hal
Bm
Yang Harus Kamu Tahu
Em
Wanita Juga Tak Mau
F#
Bila Terus Terus Kau tipu

Reef:
Bm
Satu Pasangan Tak Cukup
Em
Dua Simpanan Juga Tak Cukup
A D
Emang Dasar Emang Dasar
F#
E..Dasar Kamu Bajingan
Bm
Kamu Mau Apalagi
Em
Kamu Mau yang Gimana Lagi
A D
Emang Dasar Emang Dasar
F#
E..Dasar Kamu Bajingan

Interlude : Bm F#m E F# (2x)
Back to Bridge
Reef 2x

Bm Em
Uooo Uooo wooo wOoO
A D F#
uOOO uooo E..Dasar Kamu Bajingan
Bm Em
Uooo Uooo wooo wOoO
A D F#
uOOO uooo E..Dasar Kamu Bajingan

Coda : Bm