Kamis, 23 Oktober 2008

Penyebarluasan Informasi

Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.

Penyusunan Informasi (Berita)

Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor.

Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut UU No. 40/1999, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:

1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.

2. Menguasai bidang liputan (beat).

3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:

1. News Planning = perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan.

2. News Hunting = pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

3. News Writing = penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.

4. News Editing = penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.

Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).

Informasi : News & Views

Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).

Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.

Views adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai.

Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest.

Selasa, 21 Oktober 2008

Ibu, Adik, Aq and Mbah Putri

Rumah Tante Q yang lom Jadi dulu

Rizal, Aq waktu berangkat sekolah masih kelas 3 MI "Miftahul Ulum" Kraton

Aq ama Rouf yang suka perang-perangan

Siap......, grak, eh tapi kk gak siap ya.....? ngantuk kale.....???

Ibu lagi gendong adik, Aq ama Mbak Anis waktu mantenan tenanx (alm) Ayah

Rouf, Aq, Adik dan Om Joko lagi Action di depan rumah

Nich Aq di foto malah nangis, kenapa ya?????


Koboi dari Kraton

Action dulu ya, hadapin lomba Bocah Cakep tingkat Propinsi.

Ngaji dulu, ojo suka maenan aja.

Pelaksanaan Wawancara

Pada tahap ini, terdapat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan.

1. Datang tepat pada waktu yang telah disepaakti.

2. Memperhatikan penampilan.

3. Datang dengan persiapan dan pengetahuan masalah.

4. Sebaiknya mengemukakan alasan kedatangan (maksud dan tujuan) sebagai pengantar ataupun basa-basi untuk menjaga suasana psikologis interviewee.

5. Pertanyaan hendaknya dimulai dengan hal-hal umum (secara garis besar), dan setiap pertanyaan mengarahkan narasumber pada inti persoalan.

6. Pertanyaan tidakbersifat interogatif atau terkesan memojokkan interviewee sebagai “terdakwa”, dan hindari sebisa mungkin perkataan yang cenderung “menggurui”.

7. Dengarkan jawaban dengan baik, dan boleh menyela jika interviewee menyimpang dari topic wawancara. Dan sebaiknya, selaan dilakukan ketika interviewee dalam keadaan rileks.

8. Siapkan catatan. Jangan ragu untuk menuliskan dan mengajukan pertanyaan baru yang muncul saat mendengarkan pembicaraan interviewee. Sebab, dalam proses wawancara kadang muncul masalah baru yang bisa dikembangkan. Dengan kata lain, pewawancara harus siap mengembangkan masalah asalkan masih berkaitan dengan tema yang dibicarakan.

Selain itu, pelaksanaan wawancara akan lebih baik jika pewawancara mengenal baik biografi interviewee, jabatannya, wataknya, hobinya, dan lain-lain menyangkut diri narasumber. Adapun hal-hal yang harus dihindari selama wawancara, antara lain jangan menjilat, sok akrab, dan menjual nama orang.

Satu hal lain yang tak kalah pentingnya yaitu harus menghormati sesuatu yang dinyatakan off the record atau for your eyes only. Kode Etik Jurnalistik pun menggariskan (pasal 5 ayat 2), keterangan-keterangan yang diberikan secara off the record tidak (boleh) disiarkan, kecuali apabila wartawan yang bersangkutan secara nyata-nyata dapat membuktikan bahwa ia sebelumnya memiliki keterangan-keterangan yang kemudian ternyata diberikan secara off the record itu.

Selesai melakukan wawancara, sebaiknya langsung menuliskan (transkrip) hasilnya. Jika penulisan ditunda-tunda, maka dapat mengganggu kesegaran atau daya ingat pewawancara, yang berakibat pada kekurangan atau kekeliruan penulisan hasil wawancara tersebut. Jika ada pernyataan/kata-kata yang meragukan, bisa ditanyakan kembali atau dikonfirmasi kepada interviewee. Jika tidak memungkinkan, bisa menanyakannya kepada sumber lain.

Kiat - Kiat Wawancara

Para praktisi jurnalisme umumnya sependapat, tidak ada kiat mutlak mewawancarai seseorang. Setiap wartawan pada dasarnya memiliki kiat-kiat tersendiri dalam menemui dan memancing seseorang (interviewee) untuk berbicara atau berkomentar tentang suatu hal.

Namun demikian, hal umum yang harus diingat adalah pada dasarnya, wawancara bisa berjalan baik melalui kecerdikan mengajukan pertanyaan dan kepekaan mendengarkan atau mencerna jawaban. Dari sini, bobot atau muatan suatu wawancara akan bergantung pada sejauh mana kecerdikan pewawancara mengajukan pertanyaan.

Kecerdikan pewawancara bergantung pada dua tahap yang harus ditempuhnya: tahap persiapan dan pelaksanaan wawancara.

Tahap persiapan wawancara

Pada tahap ini, pertama-tama pewawancara menentukan topic pembicaraan atau masalah apa yang akan ditanyakan---termasuk alas an atau latar belakang pemilihan topic tersebut. Hal ini harus diperhatikan betul agar pewawancara tidak bingung apa yang akan ditanyakannya.

Patut diperhatikan, wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong. Dengan demikian pewawancara harus memahami dulu topic pembicaraan dan memahami permasalahan yang ada diseputar topic tersebut. Dan akan lebih baik, jika pewawancara sudah mempunyai pendapat atau penilaian sendiri atas masalah yang ditanyakan. Sehingga, wawancara tidak berlangsung secara monolog (satu arah), akan tetapi dalam bentuk dialog (debat). Tentu saja dialog atau debat di sini lebih diarahkan pada penggalian informasi/pendapat interviewee.

Langkah kedua, pewawancara harus merumuskan pertanyaan, yakni “pertanyaan peluru” (loaded question), terlebih bila hasil wawancara tersebut akan disajikan dalam bentuk “wawancara ekseklusif”. Disinilah dapat diketahui sejauh mana kejelian pewawancara dalam mengajukan pertanyaan yang pada akhirnya menentukan bobot muatan wawancara tersebut.

Tentu saja, rumusan pertanyaan yang telah disusun tidak bersifat kaku, melainkan fleksibel. Artinya, pertanyaan yang diajukan bisa berkembang, tidak terpaku pada rumusan yang telah disusun. Pengembangannya bisa bersumber pada jawaban yang diberikan interviewee.

Langkah ketiga adalah menjalin hubungan dengan pihak yang hendak diwawancarai (interviewee). Kiat menghubungi interviewee ini bisa ditempuh melalui telepon sekaligus mengatakan apa yang hendak diperbincangkan.

Jika tidak memungkinkan dengan cara itu, karena interviewee orang sibuk misalnya, pewawancara bisa mengejar ketempat-tempat di mana ia berada, misalnya di acara-acara tertentu. Di sela-sela acara itulah pewawancara bisa mengejar interviewee dan mengajukan pertanyaan (wawancara sambil lalu). Namun. Konsekuensinya waktu sangat terbatas. Wawancara berlangsung terbatas sekali.

Pengertian Wawancara

Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan beita, data atau fakta. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara langsung bertatap muka (face to face) dengan orang yang diwawancarai (interviewee), atau secara tidak langsung seperti melalui telepon, internet, atau surat (wawancara tertulis)

Dewasa ini wawancara bahkan tidak hanya dipandang sebagai salah satu metode jurnalistik untuk mengumpulkan informasi, tetapi juga sudah merupakan bagian dari penyajian informasi itu sendiri yang kerap disebut sebagai “wawancara eksklusif”. Hasil wawancara disajikan dalam bentuk Tanya-jawab, seolah hendak membawa pembaca turut bertanya pada narasumber atau orang yang diwawancarai tentang satu atau berbagai masalah, atau memberitahu pembaca bagaimana pewawancara menggali informasi dari narasumber tadi.

Didunia jurnalistik dikenal beberapa macam wawancara, antara lain:

o Wawancara berita (news-peg interview), yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewee tentang suatu masalah atau peristiwa.

o Wawancara pribadi (personal interviewee), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri pribadi dan pemikiran interviewee. Berita yang dihasilkannya berupa profil interviewee, meliputi indentitas diri, perjalanan hidupnya, dan pandangan-pandangannya mengenai berbagai masalah---biasanya berkaitan dengan masalah aktual atau masalah yang terkait dengan profesinya.

o Wawancara eksklusif (exclusive interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus dengan interviewee, berkaitan dengan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama oleh pewawancara dan interviewee.

o Wawancara sambil lalu (casual interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan tidak secara khusus, berlangsung secara kebetulan, tidak ada perjanjian/kesepakatan terlebih dahulu dengan interviewee. Misalnya mewawancarai seorang pejabat sebelum, saat, atau setelah berlangsungnya sebuah acara yang ia hadiri, bahkan ketika pejabat tadi berjalan menuju mobilnya untuk pulang.

Wawancara keliling (man-in-the street interviewee), yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan dengan menghubungi berbagai interviewee secara terpisah, yang satu sama lain mempunyai kaitan dengan masalah atau berita yang akan ditulis. Misalnya, ada peristiwa kebakaran. Wartawan melakukan wawancara dengan saksi mata, korban, dan lain tentang peristiwa tersebut.